PTERYDOPHYTA

A.    Dasar Teori
1. Pendahuluan
Menurut Yudianto (1992) tumbuhan paku tergolong tumbuhan kormus berspora, yang disebut Pteridophyta. Istilah ini berasal dari bahasa Greek, yaitu pteron = sayap, bulu. Pteridophyta adalah tumbuhan kormus yang menghasilkan spora, dan memiliki susunan daun yang umumnya membentuk bangun sayap (menyirip) dan pada bagian pucuk tumbuhan itu terdapat bulu-bulu. Daun mudanya membentuk gulungan (melingkar).
Warga tumbuhan paku amat heterogen, baik ditinjau dari segi habitus maupun cara hidupnya, lebih - lebih bila diperhitungkan pula jenis paku yang telah punah. Ada jenis - jenis paku yang sangat kecil dengan daun-daun yang kecil - kecil pula dengan struktur yang masih sederhana, ada pula yang besar dengan daun - daun yang mencapai ukuran panjang sampai 2 meter lebih dengan struktur yang rumit. Tumbuhan paku purba ada yang mencapai tinggi sampai 30 m dengan garis tengah batang sampai 2 m, dari segi cara hidupnya ada jenis – jenis paku yang hidup teresterial (paku tanah), ada paku epifit, dan ada paku air. Dimasa yang silam (jutaan tahun yang lalu), hutan - hutan di bumi kita terutama tersusun atas warga tumbuhan paku yang berupa pohon - pohon yang tinggi besar, dan kita kenal sisa – sisanya sekarang sebagai batu bara. Jenis - jenis yang sekarang ada jumlahnya relative kecil (lebih kecil bila dibandingkan dengan jumlah warga divisi lainnya) dapat dianggap sebagai relic (peninggalan) suatu kelompok tumbuhan yang dimasa jayanya pernah pula merajai bumi kita ini, yaitu dalam zaman paku (Palaeozoicum). Jenis -jenis yang sekarang masih ada sebagian sebagian besar bersifat higrofit. Mereka lebih menyukai tempat - tempat yang teduh dengan derajat kelembaban yang tinggi, paling besar mencapai ukuran tinggi beberapa meter saja, seperti terdapat pada marga Cyathea dan Alsophila, yang warganya masih berhabitus pohon dan kita kenal antara lain di Indonesia sebagai paku tiang (Tim dosen biologi USU, 2014)
Tumbuhan paku memperlihatkan pergiliran keturunan yang jelas seperti hal nya Bryophyta, hanya fase gametofitnya masih bentuk thallus yang disebut prothalium dan sangat kecil bentuknya sehingga tidak mudah terlihat, yang dikenal sebagai tumbuhan paku (Yudianto, 1992).
Daun tumbuhan paku ada dua macam, yaitu tropofil dan sporofil. Bentuk sporofil ini ada yang mirip dengan tropofil dan ada yang berbeda sekali dengannya dengan membentuk strobilus. Dengan demikian ada paku homofilum dan paku heterofilum (Yudianto, 1992).
Spora tumbuhan paku berbeda-beda, baik bentuk, ukuran, maupun sifatnya. Atas dasar ini kita membedakannya ada tumbuhan paku homospora, heterospora, dan tumbuhan paku peralihan yang memiliki sifat antar keduanya. Pada paku heterospora akan dihasilkan jenis spora yang disebut makrospora (megaspora) dan mikrospora yang berbeda sifatnya. Tetapi pada tumbuhan paku homospora yang dihasilkan satu jenis spora dalam sporangiumnya (Yudianto, 1992).
Pada umumnya, tumbuhan paku banyak hidup pada tempat lembap sehingga disebut sebagai tanaman higrofit. Pada hutan-hutan tropik dan subtropik, tumbuhan paku merupakan tumbuhan yang hidup di permukaan tanah, tersebar mulai dari tepi pantai sampai ke lereng-lereng gunung, bahkan ada yang hidup di sekitar kawah gunung berapi (Sugeng, 2014)
2.  Karakteristik
Menurut Sugeng (2014) Secara umum, ciri-ciri tumbuhan paku mempunyai:
a.       Lapisan pelindung sel yang terdapat di sekeliling organ reproduksi,
b.      Embrio multiseluler yang terdapat di dalam arkegonium,
c.       Lapisan kutikula pada bagian luar tubuh,
d.      Sistem transportasi internal yang berfungsi sebagai pengangkut air dan zat-zat mineral dari dalam tanah,
e.       Struktur tubuh terdiri atas bagian-bagian akar, batang dan daun,
f.       Akarnya berupa rizoid yang bersifat seperti akar serabut dengan ujung dilindungi kaliptra,
g.      Batangnya pada umumnya tidak tampak (kecuali tumbuhan paku tiang) karena terdapat di dalam tanah berupa rimpang, menjalar, atau sedikit tegak,
h.      Daunnya yang muda umumnya melingkar atau menggulung.
Menurut Sugeng (2014) Berdasarkan bentuk, ukuran dan susunan daunnya, tumbuhan paku dapat dibedakan menjadi:
a.       Daun mikrofil (daun kecil), berbentuk seperti rambut atau sisik, tidak bertangkai dan bertulang daun serta belum memperlihatkan diferensiasi sel.
b.      Daun makrofil (daun besar), ukurannya besar, bertangkai, bertulang daun, dan bercabang-cabang serta sel-selnya sudah terdiferensiasi dengan baik.
   Spora dibentuk di dalam sporangium (kotak spora) yang terkumpul di dalam suatu badan yang disebut sorus yang terletak di bawah permukaan daun sporofil, berupa bintik-bintik kuning, cokelat, atau cokelat kehitaman. Swaktu masih muda, sorus dilindungi oleh selaput tipis yang disebut indisium (Sugeng, 2014).
3. Reproduksi
Reproduksi tumbuhan paku berlangsung secara metagenesis. Reproduksi vegetatif dengan spora haploid (n) yang dihasilkan oleh tumbuhan paku. Jadi, tumbuhan paku merupakan tumbuhan dalam fase sporofit (penghasil spora). Reproduksi generatif terjadi melalui peleburan antara spermatozoid dan ovum yang dihasilkan oleh protalium. Jadi, protalium yang berbentuk talus merupakan fase gametofit (penghasil gamet) (Sugeng, 2014).
Menurut Sugeng (2014) berdasarkan jenis spora yang dihasilkan, tumbuhan paku dibedakn atas 3 golongan, yaitu:
a. Paku homospora (isospora), yaitu tumbuhan paku yang hanya menghasilkan satu macam ukuran spora. Contoh: Lycopodium sternum (paku kawat).
b. Paku heterospora (anisospora), yaitu tumbuhan paku yang menghasilkan dua jenis spora yang berlainan yaitu mikrospora (berkelamin jantan yang berukuran kecil) dan makrospora (spora berkelamin betina yang berukuran besar). Contohnya adalah Marsilea crenata (semanggi) dan Selaginella (paku rane).

c. Paku peralihan, yaitu jenis tumbuhan paku yang menghasilkan spora dengan bentuk dan ukuran sama, tetapi berbeda jenis kelaminnya. Satu berjenis kelamin jantan dan yang lain berjenis kelamin betina. Contohnya adalah Equisetum debile (paku ekor kuda).
4. Klasifikasi
 Menurut Sugeng (2014) Berdasarkan tingkat perkembangannya, tumbuhan paku dapat diklasifikasikan menjadi 4 subdivisi, yaitu:
a.    Subdivisi Psilopsida
Subdivisi Psilopsida merupakan jenis tumbuhan paku sederhana dan hanya memiliki dua genus yang hidup tersebar luas di daerah tropik dan subtropik. Termasuk tumbuhan paku homospora dan sudah hampir punah. Pada generasi sporofit, jenis tumbuhan paku ini mempunyai ranting yang bercabang-cabang dan tidak memiliki akar dan daun. Sebagai pengganti akar, jenis tumbuhan paku ini memiliki akar yang diselubungi rambut-rambut kecil yang disebut rizoid dan belum memiliki jaringan pengangkut. Contohnya adalah Psilotum nudum.
b. Subdivisi Lycopsida
Disebut juga sebagai paku kawat atau paku rambut. Anggota kelompok ini memiliki daun kecil-kecil dan tidak bertangkai. Tumbuhan paku ini termasuk paku yang hterspora. Hidup sebagai epifit di daerah tropis. Contohnya adalah Lycopodium cernuum (paku kawat) dan Selaginella (paku rane).
c. Subdivisi Sphenopsida
Dikenal sebagai paku ekor kuda dengan sporofit yang cukup mencolok. Gametofitnya berkembang dari spora berukuran sangat kecil, dapat berfotosintesis serta hidup secara bebas. Spora haploid dihasilkan di dalam sporangium secara meiosis. Sphenopsida termasuk paku peralihan. Umumnya memiliki batang bercabang dan beruas-ruas. Daunnya kecil seperti selaput halus, tunggal dan tersusun melingkar. Batangnya berwarna hijau yang mengandung klorofil untuk fotosintesis. Contohnya adalah Equisetum debile (paku ekor kuda).
d. Subdivisi Pteropsida
Dikenal sebagai pakis menurut pengertian kita sehari-hari. Banyak ditemukan di daerah hutan tropis dan subtropis. Memiliki daun yang lebih besar dibandingkan dengan subdivisi lainnya dan dibedakan menjadi dua macam yaitu megafil dengan sistem percabangan pembuluh dan mikrofil yaitu daun yang tumbuh dari batang yang mengandung untaian tunggal jaringan pengangkut. Daunnya yang masih muda menggulung pada ujungnya dan sporangium terdapat pada sporofil. Contohnya adalah Adiantum cuneatum (suplir), Marsilea crenata (semanggi), dan Asplenium nidus (paku sarang kuda) (Sugeng, 2014).
5. Manfaat
     Menurut Yudianto (1992) banyak tumbuhan paku yang memiliki manfaat dan peranan dalam kehidupan manusia, antara lain :
a. Tanaman hias : Adiantum (Suplir), Platycerium (paku tanduk rusa), Asp.lenium ( paku sarang burung), Nephrolepis, Alsphile (paku tiang) dan lain-lain.
b. Bahan obat : Equisetum (paku ekor kuda) untuk antidiuretik (lancar seni), Cyclophorus, untuk obat pusing dan obat luar, Dryopteris untuk obat cacing pita, Platycerium bifurcata untuk obat tetes telinga luar, dan Lycopodium untuk antidiuretic dan pencahar lemah dari sporanya.
c. Bahan sayuran : Marsilea (semanggi), Pteridium aqilinum (paku garuda) dan lain-lain.
d. Kesuburan tanah : Azolla pinnata, karena bersimbiosis dengan Anabaena (alga biru) yang dapat mengikat nitrogen.

e. Gulma pertanian : Salvinia natans (kayambang), pengganggu tanaman padi.













DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku
Yudianto, Suroso. (1992). Pengantar Cryptogamae. Tarsito: Bandung
Sumber Internet
Sugeng. (2014). Tumbuhan Paku (Pteridophyta). [Online]. Tersedia : http://www.pusatbiologi.com/2013/03/tumbuhan-paku-pteridophyta.html. Diakses pada tanggal 26 November 2014.
Tim Dosen Biologi USU. (2014). Pterydophyta. [Online]. Tersedia : ocw.usu.ac.id/course/download/8110000133.../7._pterydophyta_.pdf. Diakses pada tanggal 26 November 2014. 

#BIOLOGI #MAHASISWA BIOLOGI #MAHASISWIBIOLOGI #TUGASBIOLOGI #BILOGYTASK #LOVEBIOLOGI  #ARTIKELBIOLOGI #ARTIKELMAKHLUKHIDUP 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEMBUATAN 100 ml LARUTAN ALKOHOL DENGAN KONSENTRASI 50%

makalah yoghurt

UJI BENEDICT